Sumatera Utara – Hujan deras yang mengguyur sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir memicu rangkaian bencana longsor dan banjir di berbagai wilayah. Merespons kondisi darurat yang terjadi, Polda Sumatera Utara langsung mengerahkan personel dan peralatan untuk mengevakuasi warga terdampak serta membuka akses jalan yang terputus akibat bencana.
Di Kabupaten Mandailing Natal, longsor menutup Jembatan Aek Inumon II yang merupakan salah satu jalur penghubung penting bagi masyarakat setempat. Di Kecamatan Muara Batang Gadis, banjir merendam ratusan rumah dan memaksa sekitar 400 warga mengungsi. Permukiman warga berubah menjadi lokasi evakuasi darurat karena air belum surut sepenuhnya.
Musibah serupa terjadi di Tapanuli Selatan. Sebuah pohon tumbang akibat angin kencang menewaskan satu warga dan melukai satu orang lainnya. Peristiwa ini menambah daftar dampak cuaca ekstrem yang terjadi hampir merata di wilayah selatan provinsi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, dampak bencana paling besar tercatat di Kota Sibolga. Enam titik longsor dilaporkan terjadi secara bersamaan, menyebabkan lima warga meninggal dunia dan merusak sedikitnya 17 rumah. Hingga Selasa malam (25/11), empat warga masih dalam proses pencarian. Proses evakuasi di lokasi berlangsung dalam kondisi penuh tantangan karena medan yang terjal dan hujan yang masih turun.
Untuk mendukung penanganan bencana di seluruh wilayah terdampak, Polda Sumut mengerahkan empat satuan setingkat kompi (SSK) Brimob. Karo Operasi Polda Sumut, Kombes Pol Victor Togi Tambunan, menyatakan bahwa sejumlah satuan setingkat peleton (SST) juga telah diberangkatkan menuju berbagai lokasi. Para personel tersebut bertugas membantu proses evakuasi, pencarian dan penyelamatan (SAR), sekaligus mengatur lalu lintas di titik-titik strategis.
Namun, kendala di lapangan tak bisa dihindari. Sejumlah tim yang diberangkatkan harus melalui medan pegunungan dan akses jalan yang sangat terbatas, membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dari perkiraan.
“Beberapa jalur yang ditempuh personel tertutup material longsoran dan memerlukan bantuan alat berat. Namun kami pastikan seluruh tim akan tiba di lokasi dan bekerja maksimal,” kata Tambunan.
Sebagai dukungan tambahan, Polda Sumut juga mengerahkan personel Samapta untuk penjagaan dan evakuasi, Tim Dokkes (dokter dan tenaga kesehatan) untuk layanan darurat kesehatan warga maupun personel, serta Tim Teknologi Informasi (TI) untuk koordinasi komunikasi dan pendataan kondisi di lapangan.
Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan menegaskan bahwa Polri bergerak cepat dengan mengutamakan keselamatan masyarakat dan anggota di lapangan. Ia menambahkan bahwa seluruh laporan dari masyarakat langsung ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas instansi.
“Tim kami siaga penuh, bekerja siang dan malam. Prioritas utama adalah keselamatan warga dan pembukaan kembali akses-akses vital yang tertutup longsor maupun banjir,” ujar Ferry.
Ia juga menyampaikan bahwa proses pencarian korban yang belum ditemukan terus dilanjutkan bersama BPBD, Basarnas, TNI, dan berbagai elemen relawan. Menurutnya, keberhasilan penanganan bencana sangat bergantung pada kolaborasi antarlembaga dan partisipasi masyarakat.
Polda Sumut juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah lereng atau tepi aliran sungai. Intensitas hujan yang masih tinggi dikhawatirkan memicu bencana susulan seperti longsor dan banjir bandang.
Hingga saat ini, situasi di sejumlah titik masih dalam kondisi siaga. Pemerintah dan aparat terus bekerja melakukan evakuasi, membuka akses jalan, serta mendistribusikan bantuan logistik ke wilayah yang terisolasi. Kesigapan dan kehadiran Polri di lapangan menjadi bagian dari upaya menjaga keselamatan dan memulihkan kondisi masyarakat secara menyeluruh. (*)


































