Pakpak Bharat – Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara, selama lebih dari sepuluh hari terakhir memicu rentetan bencana tanah longsor yang kini mengepung Ibu Kota Salak. Hingga Rabu dini hari (26/11/2025) pukul 03.00 WIB, puluhan titik longsor terdeteksi di berbagai kawasan, dengan sejumlah jalur transportasi utama tertutup material longsoran dan mengganggu akses logistik serta mobilitas warga.
Laporan darurat yang dihimpun dari tim pemantau lapangan dan Jaringan Pusdalops setempat menyebutkan bahwa longsor melanda titik-titik strategis di sejumlah kecamatan. Debit hujan yang tinggi dan berkepanjangan mempercepat proses peluruhan tanah di lereng-lereng perbukitan Pakpak Bharat yang dikenal terjal dan rawan pergeseran tanah.
Data awal mencatat 12 titik longsor telah terkonfirmasi, antara lain di Jalinsum NAD–Simberuna, Kecamatan STTU Jehe; Jalan Binangaboang–Cikaok dengan panjang material longsoran mencapai sekitar 15 meter; serta kawasan jalan utama di Desa Salak I dan arah Simpang SMA Tinada. Longsoran juga terjadi di Kuta Saga dan Desa Kuta Dame, Kecamatan Kerajaan, yang menghambat akses antar permukiman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Selain itu, longsor dilaporkan melanda jalur PGGS Sibagindar, kawasan Tanjung Rahu (sekitar bengkel alm. Sinaga di tikungan jalan), hingga perbatasan Perdemuen–Buluh Tellang yang menghubungkan sejumlah sentra ekonomi dan pertanian lokal. Di Buluh Tellang, badan jalan sebelah kanan dari arah Sidikalang mengalami keruntuhan setelah melewati tembok sepanjang rest area, menimbulkan ancaman serius bagi pengguna kendaraan roda dua dan empat.
Situasi semakin memprihatinkan dengan adanya longsor lanjutan sebelum Simpang SMA Tinada dan Santar Julu, terutama di tikungan curam sebelum Gereja GPI Traju. Sejauh ini, belum dilaporkan adanya korban jiwa, namun kondisi medan di beberapa lokasi dinilai sangat berbahaya dibanding hari-hari sebelumnya.
Tim BPBD Pakpak Bharat bersama TNI, Polri, relawan, hingga masyarakat lokal dikerahkan menyisir lokasi terdampak untuk membantu pemantauan, membuka akses jalan, serta mendata potensi kerusakan lanjutan. Meski beberapa titik telah dibuka sebagian, akses lalu lintas secara umum masih belum stabil karena hujan belum reda, dan lereng-lereng sekitar jalan masih rawan runtuh kembali.
Kondisi darurat ini mendorong seruan kepada warga, terutama yang bermukim di daerah rawan longsor dan lembah pegunungan, untuk meningkatkan kewaspadaan. Pemerintah daerah meminta partisipasi aktif masyarakat agar melaporkan titik-titik longsor terbaru secara cepat dan terstruktur dengan mencantumkan lokasi, tingkat bahaya, kondisi lalu lintas, serta menyertakan bukti visual berupa gambar atau video untuk mempermudah verifikasi dan respons tim lapangan.
Komunikasi cepat antarwarga, pemerintah desa, serta relawan dinilai menjadi kunci percepatan koordinasi evakuasi maupun penanganan akses darurat. Hingga laporan ini disusun, upaya mitigasi terus digalakkan, termasuk penyiapan posko siaga, pengiriman alat berat, serta logistik darurat di wilayah yang terisolasi.
Masyarakat juga diimbau agar tidak beraktivitas di dekat lereng yang mulai menunjukkan tanda-tanda tidak stabil, seperti retakan tanah, suara gemuruh halus, atau pergerakan batuan kecil. Pemerintah setempat menekankan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama dalam situasi ini.
Seluruh informasi tambahan dari warga, baik melalui pesan singkat, media sosial atau pelaporan langsung ke posko terdekat, sangat dibutuhkan untuk pengambilan keputusan cepat dan tepat. Pakpak Bharat kini dalam situasi siaga bencana. Bersama, masyarakat dan pemerintah didorong untuk saling bergandengan tangan menghadapi tantangan ini dengan kewaspadaan dan solidaritas.
Langit di atas Salak masih mendung, dan lereng-lereng di sekitarnya belum sepenuhnya tenang. Di tengah ketidakpastian ini, semangat gotong royong menjadi penguat utama. Tetap siaga, tetap waspada. Keselamatan adalah yang utama. (*)


































